KELENTENG SIJUK

  • Feb 16, 2021

Kelenteng Sijuk ini didirikan pada tahun 1815 yang terletak di Jalan Lintang I Dusun Ulu RT.05 / RW.03 Desa Sijuk Kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung yang merupakan pusat pemukiman etnis Cina di masa lalu sehingga dinamakan Kampong Cina. Menempati dataran tinggi di sebelah timur Sungai Sijuk,sehingga dari kelenteng ini dapat terlihat suasana di hilir Sungai Sijuk.Bangunan kelenteng didominasi warna merah dengan arsitektur yang sarat dengan filosofi Cina. Sepasang pagoda menyambut beberapa langkah di depan bangunan utama, dimana terdapat sebuah meja altar untuk meletakkan patung dewa, hio, dan berbagai property peribadatan. Kompleks Kelenteng Sijuk sudah dilengkapi dengan shelter, taman, dan area parkir yang cukup luas. Bangunan ini juga terpelihara dengan baik dan masih dipergunakan untuk peribadatan kaum Tionghoa Sijuk dan Belitung pada umumnya. 

Ada sebuah hiolo tua di bagian depan patung Hok Tek Ceng Sin, yang berada di altar utama Kelenteng Sijuk di tengah dinding ujung ruangan. Dewa Bumi biasanya disembah oleh para pedagang dan petani untuk mendapatkan berkah rizki yang melimpah. Rizki, umur panjang, dan kesehatan adalah tiga hal yang paling dibutuhkan manusia, selain kebahagiaan tentunya.
Di ruang utama Kelenteng Sijuk Belitung terdapat empat buah patung menempel pada dinding di ujung ruangan, satu diantaranya adalah Kwan Kong (Guan Yu), seorang jenderal terkenal dari era Tiga Negara (Sam Kok). Tiga patung lainnya saya tidak mengenalinya, dan tidak pula ada tulisan di bawahnya. Bedug atau tambur berukuran sedang, serta genta berukuran cukup besar tampak menggantung di langit-langit ruangan, dengan sebuah lukisan klasik Cina menempel pada dinding di sampingnya.
Benda-benda perlengkapan sembahyang Kelenteng Sijuk Belitung yang berada di sekitar patung ini, seperti hiolo tua dengan ornamen singa itu, terlihat tua dan antik. Sementara itu di depan terdapat sepasang Ciok-say (singa) berwarna hijau di depan tiang naga, dan sepasang Ciok-say lagi berwarna putih dengan ukuran lebih kecil di masing-masing sisi luarnya. 

Lebih ke sebelah kiri lagi di halaman samping Kelenteng Sijuk terdapat sebuah altar yang digunakan untuk menyembah Dewa Batu. Seingat saya nama Dewa Batu belum pernah saya temui di kelenteng lain, kecuali nama Gedung Batu di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang. Mungkin saja sebenarnya ada, tetapi saya tidak memperhatikannya.
Di belakang altar Dewa Batu Kelenteng Sijuk ini, dimana pohon rimbun itu tumbuh, memang adalah batu gunung yang berukuran raksasa, sangat besar, memanjang ke belakang, yang bisa dilihat jika pengunjung naik ke atas bukit melewati undakan. Juga baru tahu bahwa hari ke 10 Tahun Baru Cina adalah hari ulang tahun Dewa Batu, dimana pada hari ini orang dilarang memindahkan batu, mengambil batu gunung, dan membangun rumah dengan batu, sehingga hari itu dikenal sebagai Shi Bu Dong (tidak ada batu yang bergerak). Jika pantangan ini dilanggar, akan terjadi hal-hal buruk pada tanaman.
Di halaman sebelah kiri Kelenteng Sijuk terdapat sebuah sumur tua yang berkedalaman 7 meter. Dasar sumur berupa batu tebal, sehingga tidak bisa diperdalam lagi. Namun di sisi kanan kiri dinding sumur tidak ada batunya, dan air sumur ini tidak pernah kering, meski pada musim kemarau sekalipun.